Rabu, 28 September 2011

Detak Jantung yang Sempat Hilang...


Saat pagi, saat kita mulai membuka mata, saat hari masih terasa begitu gelap dan begitu dingin. Begitu banyak yang kita harapkan di setiap hari baru. Harapan akan kebahagiaan, kesenangan, kebebasan dan keberhasilan. Kita buka perlahan mata, luaskan pandangan dan menghirup udara pagi. Syukur, apa syukur yang terucap ketika kita memulai hari? Yakin?

Harapan demi harapan kita bayangkan. Jangan pernah berfikir bahwa apa yang kita pikirkan, apa yang kita bayangkan tanpa ada satu pun yang tau. Allah, tuhan Esa yang selalu mengawasi, selalu ingat dan memperhatikan kita. Setiap harapan tanpa kita sadari diketahui oleh-Nya. Setiap detik yang berharga selalu dalam perhatiannya, sekalipun sebuah bisikan hati karena kesadaran. Sebegitu ada yang selalu memperhatikan kita dalam keadaan apapun. Syukur, apa syukur yang terucap ketika kita dalam diam merasa sendiri padahal ada yang selalu memperhatikan? Yakin?

Kita selalu meminta harapan, berjuta harapan tentang kebaikan. Kita lalui hari tanpa ingat atas apa kita melalui hari demi hari. Yang terjadi, yang terlewati, yang terlalui dan yang terasa begitu tak terasa adalah bagian dari diri kita yang tidak pernah menyadari bahwa ini adalah sebuah kesempurnaan yang tidak kita indahkan. seolah kita lupa, atau apapun itu namanya kita tetap tidak mengindahkan. Hanya meminta? hanya itu yang bisa dilakukan?

Dalam tangan, dalam ucap dan dalam hati kita selalu memohon, memohon dan memohon. Kita berusaha lewati itu semua, kita jalani setiap proses pencapaian tanpa kita sadari bahwa diri ini tidak lebih dari sebuah boneka yang diperbudak nafsu. Ketika harapan tercapai apa yang kita lakukan? Syukur? Yakin?

Ketika harapan tidak bisa kita raih, maka kita hanya bisa mengeluh. Seolah menyalahkan, seolah tidak berdaya dan tidak berguna. Kemana kita selama ini? lupa? padahal Allah tidak pernah memalingkan pandangan dari kita, selalu memberi kita perhatian. Apa seperti ini yang bisa kita lakukan? Datang pada-Nya saat kita seolah hanya menjadi segumpal kotoran hewan.

Tapi, Allah adalah dzat yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Pemaaf, Maha Pencipta, yang tidak akan membiarkan kita terjebak dalam busuknya diri kita yang seolah menjadi kotoran sekalipun. Hanya dalam sekejap mata Allah dapat membolak-balikan hati manusia. Tanpa kita sadari Allah adalah yang paling Maha Berkehendak.

Bersyukur, bersyukur, dan terus bersyukur. Itu yang harus menjadi detak jantung dalam diri kita. Sertakan Allah dalam setiap kita memulai, berproses dan menuai hasil. Tidak ada yang tidak mungkin atas apa yang menjadi kehendak-Nya. Kita adalah bagian dari orang terkasih Allah saat kita menjadi ahli syukur...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar